Postingan

Sumanto Al Qurtuby : HTI itu "Pro" Demokrasi atau Anti-Demokrasi?

Gambar
Ayam-ayamku tertawa ngguling-ngguling melihat para pentolan HTI marah-marah dan curhat gara-gara aksi-aksi dan pengajian mereka dilarang dan dihadang massa di sejumlah daerah. Mereka "ngeles" kalau Indonesia itu negara "demokrasi Pancasila" yang mestinya menghormati ekspresi kebebasan berpendapat, berserikat, dan berkumpul. Giliran ditolak merengek-rengek demokrasi, tapi giliran dibiarkan mencaci-maki demokrasi. Giliran diprotes berlindung di balik Pancasila dan UUD 1945, giliran didiamkan bengak-bengok anti ideologi dan konstitusi negara yang mereka anggap sebagai sistem thoghut, kapir, tidak islami, dlsb. Mestinya kalian harus konsisten menggunakan "logika khilafah" dong seperti yang selama ini kalian lakukan, jangan memakai "logika demokrasi". Kalian merasakan sendiri kan enaknya hidup di dunia demokrasi sehingga khilafah bisa berkembang seenaknya. Coba kalau hidup di dunia khilafah, apakah demokrasi bisa berkembang dengan leluasa? Jelas ...

Sumanto Al Qurtuby : Hubungan Pakaian dan Patriotisme

Gambar
Apakah ada hubungannya antara pakaian dengan patriotisme dan nasionalisme? Tidak ada. Habib Luthfi Bin Yahya kemana-mana sering memakai "jubah Arab" lengkap dengan "udeng-udeng" penutup kepala tetapi jiwa patriotisme dan semangat nasionalisme beliau luar biasa. Bung Karno dulu juga suka pakai jas dan dasi. Tapi siapa yang meragukan jiwa patriotisme dan nasionalisme "Putra Sang Fajar" ini? Sebaliknya, Felix Siauw kemana-mana sering pakai baju batik tapi otaknya "ngeres" mikirin "Mbak" Khilafah melulu. Cinta mati banget si doi dengan Khilafah, sampai tega mencerai Pancasila. Jadi, pakaian itu penting-tidak penting. Yang jelas penting adalah watak, jiwa, pikiran, semangat, dan tindakan nyata mencintai dan membela Pancasila, bangsa dan negara Republik Indonesia.